Minggu, 01 Januari 2012

~ Chapter 1 ~

Terik matahari terasa sangat panas seperti telah membakar seluruh permukaan bumi. Ditambah dengan sesaknya udara akibat polusi yang merajalela disemua sudut kota. Ditengah-tengah kota Seoul yang cukup padat, Krystal tengah berjalan-jalan sendiri menikmati udara yang terasa membakar dan mencabik-cabik kulitnya. Sebenarnya Krystal tidak ingin menikmati udara yang seperti itu, tetapi dia lebih memilih mengabadikan uangnya didalam dompet daripada harus merelakannya untuk naik bus.

Krystal adalah sosok gadis yang sangat ramah dan penuh semangat. Dia juga memiliki paras yang indah. Tetapi, dia memiliki latar belakang keluarga yang tidak mampu. Oleh karena itu, ia sangat perhitungan dalam membelanjakan uangnya. Krystal tinggal bersama ibunya, sementara ayahnya telah meninggal saat ia masih berumur 8 tahun. Ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang memiliki gaji pas-pasan. Karena gaji yang pas-pasan itulah Krystal terpaksa tidak melanjutkan pendidikannya ke universitas. Dia tidak ingin menambah beban yang ditanggung ibunya, bahkan ia membantu menguranginya dengan bekerja sebagai pelayan di sebuah toko kue.

Terik matahari semakin menyengat, namun tak mengurangi sedikit pun semangat Krystal untuk tetap berjalan kaki, “Panas panas begini enaknya makan es krim.” ucapnya sambil mengutak-atik isi dompetnya berharap menemukan beberapa koin emas untuk dipakai membeli es krim.

Setelah memikirkan dengan sebaik mungkin, Krystal pun memutuskan untuk memakai sebagian uangnya untuk membeli es krim.
“Setidaknya beli es krim lebih murah daripada bayar ongkos bus. Dan juga es krim bisa mengurangi sedikit rasa laparku.” kata Krystal meyakinkan dirinya.

Sebatang es krim coklat lezat yang cukup murah berhasil didapatkan oleh Krystal. Tanpa sabar Krystal langsung mengeluarkan es krim itu dari bungkusannya. Tetapi, belum sempat es krim itu mendarat di mulutnya tiba-tiba saja seorang cowok yang berjalan sambil menelpon menabraknya. Krystal pun terjatuh dan es krimnya tak dapat terselamatkan lagi. Es krim yang setetes pun belum ia rasakan kenikmatannya itu terlepas dari tangannya dan sukses mendarat di jalanan. Krystal sangat marah dan segera berdiri untuk memarahi cowok itu.
“Eh kamu jalan pake mata nggak sih?” bentak Krystal pada cowok yang menabraknya.
“Udah dulu yah! Kayaknya aku dapat sedikit masalah kecil di sini. Bye! Tut-” cowok itu kemudian menutup teleponnya dan menatap Krystal, “Kamu yang bodoh, siapa suruh berdiri di situ.” kata cowok itu santai.

Kesabaran Krystal runtuh saat mendengar perkataan cowok itu. Bukannya meminta maaf malah mengatainya bodoh, “Memangnya jalanan ini punya kamu? Lihat! Gara-gara kamu es krimku jatuh, bahkan aku belum sempat mencobanya.” kesal Krystal.
“Oh! Jadi hanya gara-gara es krim malang itu? Lagipula, es krim itu sepertinya murahan dan rasanya tidak enak. Aku bisa menggantikannya dengan yang lebih mahal dan enak.” ledek cowok itu. Saat ia hendak mengambil dompet di kantong celananya tiba-tiba handphonenya berbunyi. “Halo! Ada apa? … Apa? Mama pulang! Ba…baiklah.”

Cowok yang menabrak Krystal bernama Key. Dia adalah anak tunggal dari seorang wanita sukses yang memiliki perusahaan terbesar di Korea Selatan. Key baru saja mendapat telepon dari pelayannya bahwa ibunya telah pulang ke Korea. Dia akan dibawa ke Amerika untuk dijodohkan dengan anak dari rekan kerja ibunya yang tinggal disana. Tetapi Key tidak suka dijodohkan. Dia masih ingin kuliah dan menikmati masa mudanya.

Key berpikir keras, berusaha untuk menemukan cara agar dapat kabur dari perjodohan itu. Sesaat ia melupakan peristiwa yang barusan terjadi –menabrak Krystal. Tanpa sadar mata Key terus menatap sosok gadis yang berdiri di depannya. Mata yang indah, hidung yang mancung, rambut yang terurai panjang, dan tubuh yang indah. Hanya ada satu kata yang bisa menggambarkan semua itu, yaitu ‘Perfect’.
“Hei! Sampai kapan aku harus melihatmu melamun seperti itu? Aku harus pulang, aku tidak mau buang-buang waktu hanya untuk berurusan denganmu.” tegur Krystal yang membuat Key kaget sehingga terbangun dari lamunannya.